RESENSI NOVEL “MOGA BUNDA DISAYANG ALLAH“

RESENSI NOVEL “MOGA BUNDA DISAYANG ALLAH“

A. Identitas Buku

1. Judul                        : Moga Bunda Disayang Allah
2. Penulis                     : Tere Liye
3. Penerbit                   : Republika
4. Jumlah Halaman       : 247
5. Jenis Cover              : Soft Cover
6. Dimensi (PxL)          : 20,5 x 13,5 cm
7. Text Bahasa              : Indonesia
8. Tahun                       : 2009 ( cetakan ke-5)

B. Riwayat pengarang

Portal Berita Terpopuler – Tere Liye merupakan nama pena dari seorang novelis yang diambil dari bahasa india yang berarti “Untukmu”. Tere Liye lahir dan besar di pedalaman Sumatera, pada tanggal 21 Mei 1979, dia anak keenam dari tujuh bersaudara. Dia terlahir dari keluarga petani, Tere Liye menyelesaikan masa pendidikan dasar sampai SMP, di SDN2 dan SMN2 Kikim Timur, Sumatera Selatan, kemudian melanjutkan ke SMUN 9 Bandar Lampung, setelah itu ia meneruskan ke Universitas Indonesia dan mengambil jurusan Ekonomi.
Karya-karya Tere Liye sangatlah menyentuh hati, bila kita membaca novelnya, contohnya saja novel Moga Bunda Disayang Allah, kita bisa mengetahui bagaimana rasanya jika kita tidak bisa melihtai dan mendengar. Pasti akan sangat tersiksa.
Berikut karya-karya Tere Liye yang lain :
1. Daun yg Jatuh Tak Pernah Membenci Angin (Gramedia Pustaka Umum, 2010)
2. Pukat (Penerbit Republika, 2010)
3. Burlian (Penerbit Republika, 2009)
4. Hafalan Shalat Delisa (Republika, 2005)
5. Moga Bunda Disayang Allah (Republika, 2007)
6. Bidadari-Bidadari Surga  (Republika, 2008)
7. Sang Penandai (Serambi, 2007)
8. Rembulan Tenggelam Di Wajahmu (Grafindo, 2006; Republika 2009)
9. Mimpi-Mimpi Si Patah Hati (AddPrint, 2005)
10.Cintaku Antara Jakarta & Kuala Lumpur (AddPrint, 2006)
11.Senja Bersama Rosie (Grafindo, 2008)
12.ELIANA ,serial anak-anak mamak
13.Berjuta Rasanya (Republika, 2012)
14.Sepotong hati yang baru (Republika, 2012)

C. Sinopsis

Dalam Novel ini diceritakan seorang anak bernama Melati penderita buta dan tuli untuk bisa mengenali dunia, dan juga perjuangan seorang Pemuda bernama Karang untuk bisa keluar dari perasaan bersalah setelah kematian 18 anak didiknya dalam kecelakaan kapal.
Melati bocah berusia 6 tahun yang buta dan tuli sejak dia berusia 3 tahun. Selama 3 tahun ini dunia melati gelap. Dia tidak memiliki akses untuk bisa mengenal dunia dan seisinya. Mata, telinga semua tertutup baginya. Melati tidak pernah mendapatkan cara untuk mengenal apa yang ingin dikenalnya. Rasa ingin tahu yang dipendam bertahun tahun itu akhirnya memuncak, menjadikan Melati menjadi frustasi dan sulit dikendalikan. Melati hanya bisa mengucap Baa dan Maa. Orang tuanya berusaha berbagai macam cara untuk bisa mengendalikan Melati. Bahkan tim dokter ahli yang diundang oleh orang tuanya tidak berhasil mengendalikan Melati.
Pak Guru karang, seorang pemuda yang suka mabuk dan sering bermurung diri dikamar rumah ibu gendut yang akhirnya menjadi guru Melati. Karang sebenarnya hampir kehilangan semangat hidupnya setelah 18 anak didiknya tewas dalam kecelakaan perahu. Perasaan bersalahnya hampir setiap hari menghantuinya selama 3 tahun terakhir. Dia bahkan hampir tidak berminat ketika ibunya Melati memintanya untuk membimbing Melati. Tapi demi cintanya terhadap anak-anak Karang akhirnya datang memenuhi permintaan ibunya Melati.
Tidak mudah untuk menemukan metode pengajaran bagi Melati. Bagaimana caranya Melati bisa mendengar apa yang dikatakan Karang ? Bagaimana caranya Melati bisa melihat? Bahkan untuk menangis saja Melati tidak bisa menemukan kosakata yang benar. Dunia Melati benar-benar gelap. Melati tidak mempunyai akses untuk tahu. Tidak mempunyai cara untuk mengenal apa yang ingin dia kenal. Setiap kali ada yang menyentuh tubuh Meklati maka dia akan marah, mengamuk dan meklemparkan apa saja yang tercapai oleh tangannya.
Karang hampir putus asa. Lalu keajaiban datang ketika air mancur membasuh lembut telapak tangan Melati. Melati merasakan aliran air di sela jemarinya. Saat itulah untuk pertama kalinya Karang melihat Melati tertawa. Karang akhirnya mengerti, melalui telapak tangan itulah karang menuliskan kata Air, dan meletakkan telapak tangan Melati kemulutnya dan berkata A-I-R. Melati akhirnya mengerti benda yang menyenangkan itu bernama air. Melalui telapak tangan Melati, air mancur yang mengalir di tangan dan sela-sela jarinya berhasil mencukilnya. Melalui telapak tangan itulah semua panca indera disitu. Akhirnya dunia Melati tidak lagi gelap. Dia bisa mengenali orang tuanya, dia bisa mengenali kursi, sendok, pohon dan sebagainya.

D. Kelebihan dan Kekurangan Novel

Kelebihan :
Pengarang menciptakan karakter Melati, Bunda dan Karang dalam sosok masing-masing yang tidak bisa dibedakan mana yang lebih pantas disebut sebagai tokoh utama. Di sini benar-benar terasa adanya tiga tokoh utama yang memiliki kedudukan sama sebagai agen penderita, agen perubahan, dan agen pencerahan. Menyadarkan kita bahwa manusia dalam kedudukannya sendiri-sendiri sebenarnya sedang melakoni peran penting dalam kehidupan nyata. Cerita ini menyuguhkan perjuangan hidup yang tidak mudah yang dialami oleh anak-anak. Baik itu Karang yang yatim piatu maupun Melati dengan segala kekurangannya. Namun ada satu kesamaan antara mereka, anak-anak selalu punya janji masa depan yang lebih baik.Penulis berulang kali mengungkapkan kalimat yang mengingatkan pembaca untuk bersabar dan bersyukur “Hidup ini adil, sungguh Allah Maha Adil, kitalah yang terlalu bebal sehingga tidak tahu dimana letak keadilanNya, namun bukan berarti Allah tidak adil”.

Kekurangan :
Cerita ini ditulis dalam gaya bahasa sehari-hari yang tidak baku. Penggunaan berulang-ulang kosakata yang tidak baku serta kalimat tambahan yang tidak perlu mengganggu kenyamanan dalam membaca. Seperti penggunaan kata “ibu-ibu gemuk” yang artinya menunjuk pada seorang ibu yang bertubuh subur dan kata “anak-anak” untuk penunjukan kata benda seorang anak.Pilihan penulis dalam penempatan setting dan kegiatan pendukung dalam novel terasa kurang tepat. Dalam novel semua tokoh digambarkan sebagai orang-orang muslim dengan segala aktivitas dan atribut mereka, namun pada ending cerita penulis menciptakan suasana pesta kembang api yang dirayakan pada tahun baru Imlek oleh masyarakat termasuk para tokoh novel. Alih-alih menyebutkan secara jelas kota atau negara terjadinya peristiwa dalam novel, sejak awal penulis hanya menyebutkan tempat-tempat semu: “rumah di atas bukit”, “daerah jauh dari ibukota”, “Tuan dan Bunda HK”. Jadi tidak terlihat jelas keberagaman budaya atau mayoritas budaya penduduk yang ada di daerah tempat tinggal tokoh Melati, sehingga kurang ada alasan tepat jika penulis dengan tiba-tiba memasukkan salah satu kegiatan tahunan keluarga Melati adalah merayakan tahun baru China

E. UNSUR EKSTRISTIK

1.Nilai Ketuhanan
*Pentingnya berdo’a kepada Tuhan karena Dialah sang pengabul do’a. Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya.
“Ya Allah tak lelah Ia berharap suatu saat keajaiban itu pasti datang” (hlm.  31)
2.Nilai Moral
Kita sebagai manusia janganlah berbangga hati dan congkak atas segala yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita. Tetaplah bersikap rendah diri dan sederhana karena kita tidak tahu kapan tuhan akan memberikan ujiannya. Selalu bersyukur karena dengan bersyukur kita dapan menjalani hidup ini dengan senyuman.Berbuat baik terhadap semua orang karena hidup adalah cermin dari diri kita sendiri.
“Bunda selalu bisa menghargai orang, meski sepenting dan seberkuasa apapun keluarga mereka.” (hlm. 20)
3.Nilai Sosial
Sayangilah semua orang yang mencintai dan menyayangimu karena merekalah harta karun terbesar yang tuhan berikan. Mereka adalah sumber kekuatan disaat kesepian, terpuruk dan limbung.Merekalah pembawa kebahagian dan keceriaan yang menemanai hari kita bersama senyuman.
“Ia bersumpah akan menjaga keluarga ini seperti leluhurnya.” (hlm. 19)
4.Ekonomi
Kondisi perekonomian masyarakat pedesaan
“ Tanah yang hari ini dipenuhi oleh persawahan. Tunggulah setengah jam lagi, saat matahari beranjak dari garis lautan, ketika pagi mulai meninggi, pematang sawah juga mulai dipenuhi petani yang riang menjemput hari. Kepala dengan topi ilalang.Cangkul di pundak. Sepatu bot setinggi lutut. Dan bekal tiga potong pisang rebus. Bakal nikmat nian, pukul 10.00 nanti istirahat sejenak di pondok rumbia setelah bekerja membersihkan gulma. Di pelelangan ikan dekat pelabuhan, sejak shubuh sudah di padati nelayan. Nelayan yang setelah semalaman akhirnya pulang dari melaut.Menumpahkan berember-ember udang besar, cumi sebesar tinju, kepiting sebesar buku, dan tidak terhitung ukuran ikan-ikannya. Kalau beruntung, bawa hiu sebesar hiu. Pemilik ruko juga mulai membuka partisi depan.” (hlm. 2)
5.Agama
Islam adalah agama terbaik di muka bumi ini. Tidak ada perbedaan diantara semua makhluk Tuhan kecualim keimanan mereka.
“Menghabiskan sisa malam dengan bersimpuh menangis di atas sajadah.Membuat basah ujung mukena.Berharap Tuhan akhirnya memberikan jalan-keluar.” (hlm. 4)
“Ibu, dulu aku pernah  sendiri bertanya dalam sesak.. Apa bedanya sebutir air bening di ujung daun dengan sebutir debu di dinding kusam? Dulu, tiada yang menjawab.hari ini aku menemukan sendiri jawabannya. Apa bedanya? tidak ada. Sama sekali tidak ada.Keduanya sama mensucikan, meski hakikat dan fisiknya jelas berbeda.” (hlm. 87)