RESENSI NOVEL LASKAR PELANGI

RESENSI NOVEL LASKAR PELANGI

A. SINOPSIS

PAGI itu, ketika aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang dapan sebuah kelas. Sebatang pohon filicium tua yang rindang meneduhiku. Ayahku duduk di sampingku, memeluk pundakku dengan kedua lengannya dan tersenyum mengangguk-angguk pada setiap orangtua dan anak-anaknya yang duduk berderet-deret dibangku panjang lain di dapan kami. Hari itu adalah hari yang agak penting: hari pertama masuk SD.
Di ujung bangku-bangku panjang tadi ada sebuah pintu terbuka. Kosen pintu sudah miring karena seluruh bangunan sekolah sudah doyong seolah akan roboh. Di mulut pintu berdiri dua orang guru seperti para penyambut tamu dalam perhelatan. Mereka adalah seorang bapak tua berwajah sabar, Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, sang kepala sekolah dan seorang wanita muda berjilbab, Ibu N.A. Muslimah Hasfari atu  Bu Mus. Seperti ayahku, mereka berdua juga tersenyum.
Mereka menunggu dengan perasaan cemas, tegang, serta penuh harap karena setelah beberapa jam mereka hanya mendapatkan sembilan orang murid baru. Semuanya menunggu seorang murid lagi dan berharap sekolah ini tidak dibubarkan hanya karena kekurangan seorang murid lagi.
Akhirnya, setelah ditunggu-tunggu beberapa jam lamanya, seorang murid yang diharapkan kedatangannya tak kunjung datang juga. Tampak kegelisahan yang terpancar dari wajah cantik ibu guru  satu ini. Begitu pula Pak Mus yang sangat antusias menunggu datangnya seorang lagi.
Sampai akhirnya, dengan rasa penyesalan dan kekecewaan yang teramat dalam, akhirnya sekolah SD Muhamadiyah ini diputuskan untuk ditutup. Raut wajah Ibu Mus terlihat sangat kecewa, dan tanpa terasa beliau meneteskan air mata. Pak Mus telah memutuskan untuk membacakan pidato penutupan pada sekolah ini. Para murid yang hanya bejumlah sembilah inipun merasakan hal yang sama dengan perasaan yang dirasakan oleh Ibu Mus dan Pak Harfan.
Namun tiba-tiba, pada waktu Pak Mus hendak menyiapkan diri untuk membacakan pidato tanda sekolah ini akan ditutup dan semua murid telah putus harapannya untuk dapat menuntut ilmu, terlihat seorang murid dengan sedikit mengalami kelatarbelakangan berlari-lari dengan gembiranya dan di tepat di belakangnya seorang Ibu mengikuti langkahnya dengan sabar.
Seorang ibu itu berkata kepada Pak Harfan dan Ibu Mus bahwa ia akan menyekolahkan anaknya yang benama Harun itu dengan perasaan berharap anaknya mampu diterima di SD Muhamadiyah tersebut. Kontan kehadiran Harun dan Ibunya tersebut membuat semua yang hadir, begitu juga dengan Pak Harfan dan Bu Mus sangat bahagia.
Mereka semua menyambut Harun dengan perasaan haru dan sukacita.
Lagi-lagi Bu Mus meneteskan air mata untuk yang kedua kalinya, namun berbeda dengan yang pertama kali tadi, sekarang Bu Mus sangat bahagia dan sangat lega sekolah yang bernama SD Muhamadiyah ini tak jadi ditutup berkat kehadiran Harun. Pak Harfan pun akhirnya membacakan pidato penyambutan bagi kesepulu murid barunya.
Dari sanalah akhirnya di mulai cerita kesepuluh murid baru. Di pagi hari itu, Bu Mus melakukan penempatan tempat duduk. Ibu yang satu ini sangatlah sabar. Umumnya Bu Mus mengelompokkan tempat duduk berdasarkan kemiripan. Ke sepuluh murid ini bernama Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani, dan tentu saja Harun. Pada saat diatur tempat duduknya ada satu anak yang bernama Lintang, dai anak seorang nelayan yang sangat miskin, setiap hari dia bersepeda sejauh 40 km dari rumahnya yang berada di Tanjong Kelumpang, desa yang sangat jauh di tepi laut sampai ke sekolah. Setiap hari ia selalu melewati 4 kawasan pohon nipah yang lumayan seram, tak jarang ada buaya yang sangat besar menyebrang disitu (kadang malah nongkrong). Walaupun begitu ia tetap semangat, ia tak sekalipun pernah membolos dari sekolah yang meskipun terkadang karena saking jauhnya jarak perjalanan tersebut terkadang ia tiba hanya untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dia nanti akan menjadi orang yang paling jenius yang pernah ada di dunia ini (mungkin).
Ikal dan Lintang sebangku karena mereka sama-sama berambut ikal. Trapani duduk dengan Mahar karena mereka berdua paling tampan, penampilan mereka seperti para pelantun irama semenanjung idola orang Melayu pedalaman. Namun Borek dan Kucai didudukkan bersama bukan karena mereka miriptapi karena mereka sama-sama susah diatur.
Tak lama kemudian, Pak Harfan pun mengenalkan dirinya sebagai kepala sekolah sekaligus sebagai guru menemani Ibu Mus yang merupakan guru satu-satunya di sekolah ini. Pak Mus memberikan cerita-cerita serta pesan yang sangatlah berharga bagi kehidupan kesepuluh murid yang oleh Bu Mus diberi nama “Laskar Pelangi” karena kecintaan mereka terhadap pelangi. Beliau telah membuat para laskar pelangi ini pun jatuh cinta kepadanya. Apabila Pak Harfan pergi, mereka memandang lekat-lekat sosok tubuh  beliau. Satu jam dengannya terasa hanya satu menit bagi kesepuluh laskar pelangi ini. Ada semacam pengaruh yang lembut dan baik terpancar darinya. Ia mengesankan sebagai pria yang yang kenyang akan pahit dan getir perjuangan dan kesusahan hidup, berpengetahuan seluas samudra, bijak, berani mengambil resiko, dan menikmati daya tarik dalam mencari-cari bagaimana cara menjelaskan sesuatu agar setiap orang mengerti.
Tidak susah menggambarkan sekolah SD Muhamadiyah ini, keadaan yang sudah reot dengan atap yang bolong dan pasti bocorjika hujan tiba, dan bisa roboh kalau ditabrak anak kambing ngamuk.
Mereka tidak mempunyai seragam, apalagi P3K, kalau sakit bakal diberi obat yang sangat pahit yaitu pil APC yang katanya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Yang rutin datang pun hanya pemberantas nyamuk. Sekolah ini sangat  mirip dengan gudang kopra, malam harinya buat kandang ternak.
Esoknya Bu Mus mengadakan acara pemilihan ketua kelas  dan yang ditunjuk oleh Bu Mus adalah Kucai. Awlanya Kucai tak setuju dengan usulan Bu Mus, tetapi yang lainnya sangat setuju jika Kucai yang ditunjuk sebagai ketua kelas. Kucai pun sengaja menunjuk Borek, namun Borek malah melakukan sesuatu kebodohan yang justru membuat Bu Mus kagum dengannya. Hingga pada akhirnya, Kucailah yang yang menjadi ketua kelas karena kesembelan temannya memilih ia yang menjadi ketua kelas. Ia menerima keputusan ini dengan pasrah dan berusaha menjalankan tugasnya sebaik mungkin.
Namun, di tengah-tengah kebahagiaan yang mereka alami, mereka dilanda suatu kejadian yang termat menyedihkan yaitu meninggalnya kepala sekolah yang sangat mereka cintai. Kepergian Pak Harfan merupakan pukulan terberat bagi kesepuluh laskar pelangi, terutama Bu Mus. Hingga sempat membuat Bu Mus enggan mengajar sekolah lagi. Namun ia tersadar ia masih mempunyai kesepuluh laskar pelangi yang harus ia perjuangkan, ia harus membuat mereka bangkit dan menatap indahnya dan kerasnya kehidupan ini kembali.
Hingga seiring berjalannya waktu, semakin terlihat karakter serta keajaiban yang mereka miliki. Banyak kisah yang terukir dari kesepuluh laskar pelangi ini.
Tengoklah Mahar, seorang pesuruh tukang parut kelapa sekaligus seniman dadakan yang imajinatif, tak logis, kreatif, dan sering diremehkan oleh sahabat-sahabatnya, namun ia berhasil mengangkat derajat sekolah kampung mereka. Pernah pada saat giliran Ikal untuk membeli kapur ia bertemu dengan seseorang yang paling cantikyang pernah ia lihat. Orang itu bernama A Ling namun tidak lama setelah itu dia pergi ke Jakarta mengikuti Bibinya.
Atau pernah pada suatu malam hari ada anak yang bernama Flo hilang, walaupun telah dicari ke seluruh pelosok pulau juga tidak ketemu. Akhirnya para polisi menggunakan alternative lain yaitu bertanya kepada tuk bayan tula, seorang petapa yang tinggal di pulau yang sangat terpencil, banyak orang pergi ke sana tiba-tiba hilang begitu saja.
Akhirnya setelah bertanya kepada tuk bayan tula walaupun sudah pagi ia belum juga ditemukan. Karena Kucai sering bilang ada gubuk di seberang sungai paling angker/sungai buta, jadinya mereka harus menyebrangi sungai buta walaupun banyak buaya dan ular, akhirnya Flo ketemu juga. Karena kejadian Flo sejak pagi itu, Kucai menjadi seorang yang tergila-gila dengan ilmu ghaib walaupun nantinya insyaf lagi.
Keajaiban terjadi lagi karena Lintang berhasil memperoleh piagam karena ia telah memenangkan lomba mata pelajaran dan artinya SD SMP Muhamadiyah telah memiliki 2 prestasi, setelah sebelumnya Mahar pada saat karnaval di sekolah SD PN Timah, Maharlah yang dipercayakan sebagai pemimpin kelompok. Karena Maharlah sekolah ini mendapat piala pertamanya setelah bertahun-tahun didirikan. Dan Ketujuh laskar pelangi lainnya yang sangat membanggakan.
Tak ayal, kejadian yang paling menyedihkan melanda sekolah Muhamaddiyah ketika Lintang, siswa paling jenius anggota laskar pelangi itu harus berhenti sekolah padahal cuma tinggal satu triwulan menyelesaikan SMP. Ia harus berhenti karena ia anak laki-laki tertua yang harus menghidupi keluarga sebab ketika itu ayahnya meninggal dunia. Native Belitong kembali dilanda ironi yang besar karena seorang anak jenius harus keluar sekolah karena alasan biaya dan nafkah keluarga justru disekelilingnya PN Timah menjadi semakin kaya raya dengan mengekploitasi tanah leluhurnya.
Meskipun awal tahun 90-an sekolah Muhamaddiyah itu akhirnya ditutup karena sama sekali sudah tidak bisa membiayai diri sendiri tapi semangat, integritas, keluruhan budi, dan ketekunan yang diajarkan Pak Harfan dan Bu Muslimah tetap hidup dalam hati para laskar pelangi. Akhirnya kedua guru itu bisa berbangga karena diantara sebelas orang anggota laskar pelangi sekarang ada yang menjadi wakil rakyat, ada yang menjadi research and development manager di salah satu perusahaan multi nasional paling penting di negeri ini, ada yang mendapatkan bea siswa international kemudian melakukan researsh di University de Paris, Sorbonne dan lulus S2 dengan predikat with distinction dari sebuah universitas terkemuka di Inggris. Semua itu, buah dari pendidikan akhlak dan kecintaan intelektual yang ditanamkan oleh Bu Mus dan Pak Harfan. Kedua orang hebat yang mungkin bahkan belum pernah keluar dari pulau mereka sendiri di ujung paling Selatan Sumatera sana.
Banyak hal-hal inspiratif yang dimunculkan buku ini. Buku ini memberikan contoh dan membesarkan hati. Buku ini memperlihatkan bahwa di tangan seorang guru, kemiskinan dapat diubah menjadi kekuatan, keterbatasan bukanlah kendala untuk maju, dan pendidikan bermutu memiliki definisi dan dimensi
yang sangat luas. Paling tidak laskar pelangi dan sekolah miskin
Muhamaddiyah menunjukkan bahwa pendidikan yang hebat sama sekali tak berhubungan dengan fasilitas. Terakhir cerita laskar pelangi memberitahu kita bahwa bahwa guru benar-benar seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

B.  Unsur intrinsik

1. Alur Tema
Tema khusus : Pendidikan
Alasan : Karena novel tersebut mengangkat kisah realita kehidupan pendidikan di Indonesia
Tema umum : Perjuangan memperjuangkan sekolah
Alasan : Sepuluh anak berjuang mempertahankan sekolahnya demi memuaskan dahaga                                mereka akan ilmu-ilmu
2. Penokohan
1. Tokoh-tokoh dalam novel
~ Ikal;Andrea Hirata.Ikal merupakan julukan yang diberikan oleh warga kampung                       Belitong.
~ Lintang; Lintang Samudra Basara bin Syahbani Maulana Basara
~ Sahara; N.A. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim Ramdhani Fadillah
~ Mahar; Mahar Ahlan bin Jumadi Ahlan bin Zubair bin Awam
~ A Kiong; Muhammad Jundullah Gufron Nur Zaman
~ Syahdan; Syahdan Noor Aziz bin Syahari Noor Aziz
~ Kucai; Mukharam Kucai Khairani
~ Borek alias Samson
~ Trapani; Trapani Ihsan Jamari bin Zainuddin Ilham Jamari
~ Harun; Harun Ardhli Ramadhan bin Syamsul Hazana Ramadhan
~ Bu Mus; N.A. Muslimah Hafsari
~ Pak Harfan; K.A. Harfan Efendy Noor
~ Flo; Floriana
~ A-Ling ; Njoo Xian Ling

2.   Karakter tokoh dalam novel
§ Ikal : tokoh ‘aku’ dalam cerita ini. Ikal yang selalu menjadi peringkat kedua merupakan anak yang pintar. Ia sangat menyukai sastra, terlihat dari kesehariannya yang senag menulis puisi. Ia menyukai A Ling sepupu dari A Kiong.
§ Lintang : Teman Ikal yang luar biasa jenius. Lintang telah menunjukkan minat besar untuk bersekolah semenjak hari pertama berada di sekolah. Ia berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya bekerja sebagai nelayan miskin yang tidak memiliki perahu dan harus menanggung kehidupan 14 jiwa anggota keluarga. Cita-citanya terpaksa ia tinggalkan agar ia dapat bekerja untuk membiayai kebutuhan hidup keluarganya semenjak ayahnya meninggal.
§ Sahara : Satu-satunya gadis dalam anggota laskar pelangi. Merupakan gadis keras kepala yang berpendirian kuat yang sangat patuh pada agama terbukti ia merupakan gadis berjilbab yang cantik dan selalu rajin menunaikan sholat dan mengaji, gadis yang ramah dan pandai, ia baik kepada siapa saja kecuali pada A Kiong yang semenjak mereka masuk sekolah sudah ia basahi dengan air dalam termosnya.
§ Mahar : Tampan, ia memiliki bakat dan minta besar pada seni. Pertama diketahui ketika tanpa sengaja Bu Mus menunjuknya untuk bernyanyi di depan kelas saat pelajaran seni suara.
§ A Kiong : Kendatipun ia memiliki wajah yang buruk rupa, ia memiliki rasa persahabatan yang tinggi dan baik hati, serta suka menolong pada siapapun kecuali Sahara. Namun, meski mereka selalu bertengkar, ternyata mereka berdua saling mencintai.
§ Syahdan : Anak nelayan yang ceria tak pernah menonjol. Merupakan anak yang mempunyai tipe pekerja keras. Dengan bekerja keras pada akhirnya dia menjadi aktor sungguhan Walaupun kalau ada apa-apa dia pasti menjadi seorang yang paling tidak diperhatikan.
§ Kucai : Ketua kelas sepanjang generasi sekolah Laskar Pelangi. Laki-laki ini sejak kecil terlihat bisa menjadi politikus dan akhirnya diwujudkan ketika ia dewasa menjadi ketua fraksi di DPRD Belitong.
§ Borek : Pria besar maniak otot dan selalu menjaga citranya sebagai laki-laki macho. Ketika dewasa ia menjadi kuli di toko milik A Kiong dan Sahara.
§ Trapani : Pria tampan yang pandai dan baik hati ini sangat mencintai ibunya. Dan apapun yang ia lakukan harus selalu didampingi ibunya. Seperti misalnya ia akan tampil sebagai band yang di komando oleh Mahar, ia tidak mau tampil jika tidak ditonton Ibunya.
§ Harun : Pria yang memiliki keterbelakangan mental dan memulai sekolah dasar ketika ia berumur 15 tahun. Laki-laki jenaka ini senantiasa bercerita tentang kucingnya yang berbelang tiga dan melahirkan tiga anak yang masing-masing berbelang tiga pada tanggal tiga pada tanggal tiga kepada Sahara dan senang sekali menanyakan kapan libur lebaran kepada Bu Mus.
§ Bu Muslimah : Bernam lengkap N.A. Muslimah Hapsari Hamid binti K.A. Abdul Hamid. Dia adalah Ibunda Guru bagi Laskar Pelangi dan berhati lembut.
§ Pak Harfan : Bernama lengkap N.A. Harfan Efendi Noor bin K.A. Fadilah Zein Noor. Ia adalah orang yang sangat baik hati dan penyabar meski murid – murid awalnya takut untuk melihatnya. Seperti pada saat beliau bercerita tentang kisah para nabi, semua murid sangat senang dan ketika beliau pulang murid-muridnya selalu menatap lekat-lekat pada dirinya.
§ Flo : Bernama asli Floriana. Seorang anak tomboy yang berasal dari keluarga kaya. Dia tidak sombong walaupun menjadi anak orang kaya. Buktinya ia malah berkeinginan untuk bersekolah di SD SMP Muhamadiyah dan sama sekali tidak merasa malu.
§ A Ling : Cinta pertama Ikal yang merupakan saudara sepupu A Kiong. Dia adalah perempuan yang cantik, hingga ia mampu membuat Ikal jatuh hati padanya.

3. Amanat
Amanat yang dapat dipetik ialah :
§ Bahwa sebagai penyakit sosial, kemiskinan harus diperangi dengan metode yang tepat guna membebaskan mereka dari peliknya kehidupan.
§ Bahwa pendidikan adalah memberikan hati kita kepada anak-anak, bukan sekedar memberikan instruksi atau komando
§ Bahwa setiap anak memiliki potensi unggul yang akan tumbuh menjadi prestasi cemerlang pada masa depan, apabila mereka diberi kesempatan dan keteladanan oleh orang-orang yang mengerti akan makna pendidikan yang sesungguhnya
§ Hidup ini dapat kita lalui dengan bahagia apabila kita semangat dalam menjalankan kewajiban kita, dan sabar dalam menghadapi cobaan
§ Kita dapat meniru semangat yang berkobar dari kesepuluh laskar pelangi di dunia pendidikan, agar kita mampu meraih cita-cita setinggi langit

C. Unsur ekstrinsik

1. Latar Belakang Pengarang
Andrea Hirata lahir di Belitong. Meskipun studi mayornya ekonomi, ia amat menggemari sains (fisika, kimia, biologi, astronomi) dan tentu saja sastra. Edensor adalah novel ketiganya setelah novel – novel best seller Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Andrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademis dan backpaper. Sekarang ia tengah mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di Kye Gompa, desa tertinggi di dunia, di Himalaya. Andrea berpendidikan ekonomi dari Universitas Indonesia. Ia mendapat beasiswa dari Uni Eropa untuk studi master of science di Universitas de Paris, Sorbonne, Prancis, dan Sheffield Hallam University, United Kingdom. Tesis Andra di bidang Ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan ia lulus cum laude. Tesis itu telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi ilmiah. Saat ini Andrea tinggal di Bandung dam masih bekerja di kantor pusat PT Telkom. Hobinya naik komidi putar.

2. Keyakinan dan pandangan hidup pengarang
Penulis adalah seorang yang optimis dan bersemangat dalam menjalani hidupnya, terutama dalam hal pendidikan. Ia selalu mendeskripsikan hidup sebagai suatu tantangan bagi penulis hidup teka-teki yang harus dicari jawabnya.

3. Psikolog pengarang
Pengarang merupakan sosok yamg imajinatif, kreatif, ulet, semngat, dan optimistis. Sifat semngatnya itu yang membuat pengarang mampu menciptakan novel-novel penyemangat terutama Laskar Pelangi ini. Dalam novel ini terlihat sekali bagaiman pengarang bersemangat dalm memperjuangkan pendidikan walaupun kemiskinan teru saja mendera. Pengarang melalui hidupnya dengan gembira dan menyenangkan.

2.3.4. Keadaan sosial masyarakat
Penulis berada di tengah-tengah masyarakat yang dulunya merupakan pusat penghasilan Timah yaitu Belitong. Kondisi miskin tak membuat pengarang menyerah dalam memperjuangkan pendidikannya. Hingga akhirnya lingkungan yang awalnya sangat kurang menyadari pendidikan, menjadi suatu lingkungan yang sangat berwawasan dan berpengetahuan.


Baca Artikel Lainnya: