Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj

Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A. atau sering dikenal Said Aqil Siroj (lahir di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat, Indonesia, 3 Juli 1953; umur 62 tahun) adalah Ketua Umum (Tanfidziyah) Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama periode 2010-2020.
Pemilihan sebagai Ketua Umum PBNU
Said Aqil Siroj terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama (PBNU) periode 2010-2015 dalam Muktamar ke-32 Nahdlatul ‘Ulama (NU) di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan. Said unggul dengan perolehan 294 suara dari rivalnya Slamet Effendi Yusuf yang mendapat 201 suara. Sebelumnya, KH Sahal Mahfudz, terpilih menjadi Rais Aam PBNU. Said Aqil Siradj Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama (PBNU) 2010-2015. Said Aqil Siraj dan Slamet maju ke putaran kedua setelah memperoleh masing-masing 178 suara dan 158 suara. Keduanya dianggap memenuhi syarat untuk maju dalam putaran kedua pemilihan calon ketua umum PBNU. Dalam tata tertib muktamar seorang calon harus mengumpulkan 99 suara untuk ditetapkan sebagai calon ketua umum. Sementara itu, Sholahuddin Wahid (Gus Solah) hanya mendapatkan 83 suara, Ahmad Bagja (34), Ulil Absar Abdala (22), Ali Maschan Moesa (8), Abdul Aziz (7), Masdar Farid Mas’udi (6). Mereka gagal memperoleh angka 99 suara dari muktamirin sehingga tidak bisa mengikuti putaran kedua.
Pada Muktamar NU Ke 33 di Jombang, Said Aqil Siroj kembali terpilih sebagai Ketua Umum PBNU untuk periode kedua (2015-2020). Said Aqil Siroj meraih kemenangan dengan mengumpulkan 287 suara dari 412 suara muktamirin. Kandidat lainnya As’ad Said Ali meraih 107 suara, dan Salahudin Wahid 10 suara. Said Aqil Siroj kembali berjanji untuk konsisten tak akan menggunakan NU untuk kepentingan politik. Said mengatakan, agenda yang menjadi prioritasnya adalah pendidikan, kesehatan dan ekonomi.
Di kalangan Nahdlatul Ulama, Said Aqil Siroj bukanlah orang baru. Ayahnya, Aqil Siroj Kempek adalah seorang kiai di Cirebon dan termasuk dalam jejaring ulama di Karesidenan Cirebon, seperti Benda Kerep, Buntet, Gedongan dan Babakan.


Baca Artikel Lainnya:

RESENSI NOVEL LASKAR PELANGI

RESENSI NOVEL LASKAR PELANGI

RESENSI NOVEL LASKAR PELANGI

A. SINOPSIS

PAGI itu, ketika aku masih kecil, aku duduk di bangku panjang dapan sebuah kelas. Sebatang pohon filicium tua yang rindang meneduhiku. Ayahku duduk di sampingku, memeluk pundakku dengan kedua lengannya dan tersenyum mengangguk-angguk pada setiap orangtua dan anak-anaknya yang duduk berderet-deret dibangku panjang lain di dapan kami. Hari itu adalah hari yang agak penting: hari pertama masuk SD.
Di ujung bangku-bangku panjang tadi ada sebuah pintu terbuka. Kosen pintu sudah miring karena seluruh bangunan sekolah sudah doyong seolah akan roboh. Di mulut pintu berdiri dua orang guru seperti para penyambut tamu dalam perhelatan. Mereka adalah seorang bapak tua berwajah sabar, Bapak K.A. Harfan Efendy Noor, sang kepala sekolah dan seorang wanita muda berjilbab, Ibu N.A. Muslimah Hasfari atu  Bu Mus. Seperti ayahku, mereka berdua juga tersenyum.
Mereka menunggu dengan perasaan cemas, tegang, serta penuh harap karena setelah beberapa jam mereka hanya mendapatkan sembilan orang murid baru. Semuanya menunggu seorang murid lagi dan berharap sekolah ini tidak dibubarkan hanya karena kekurangan seorang murid lagi.
Akhirnya, setelah ditunggu-tunggu beberapa jam lamanya, seorang murid yang diharapkan kedatangannya tak kunjung datang juga. Tampak kegelisahan yang terpancar dari wajah cantik ibu guru  satu ini. Begitu pula Pak Mus yang sangat antusias menunggu datangnya seorang lagi.
Sampai akhirnya, dengan rasa penyesalan dan kekecewaan yang teramat dalam, akhirnya sekolah SD Muhamadiyah ini diputuskan untuk ditutup. Raut wajah Ibu Mus terlihat sangat kecewa, dan tanpa terasa beliau meneteskan air mata. Pak Mus telah memutuskan untuk membacakan pidato penutupan pada sekolah ini. Para murid yang hanya bejumlah sembilah inipun merasakan hal yang sama dengan perasaan yang dirasakan oleh Ibu Mus dan Pak Harfan.
Namun tiba-tiba, pada waktu Pak Mus hendak menyiapkan diri untuk membacakan pidato tanda sekolah ini akan ditutup dan semua murid telah putus harapannya untuk dapat menuntut ilmu, terlihat seorang murid dengan sedikit mengalami kelatarbelakangan berlari-lari dengan gembiranya dan di tepat di belakangnya seorang Ibu mengikuti langkahnya dengan sabar.
Seorang ibu itu berkata kepada Pak Harfan dan Ibu Mus bahwa ia akan menyekolahkan anaknya yang benama Harun itu dengan perasaan berharap anaknya mampu diterima di SD Muhamadiyah tersebut. Kontan kehadiran Harun dan Ibunya tersebut membuat semua yang hadir, begitu juga dengan Pak Harfan dan Bu Mus sangat bahagia.
Mereka semua menyambut Harun dengan perasaan haru dan sukacita.
Lagi-lagi Bu Mus meneteskan air mata untuk yang kedua kalinya, namun berbeda dengan yang pertama kali tadi, sekarang Bu Mus sangat bahagia dan sangat lega sekolah yang bernama SD Muhamadiyah ini tak jadi ditutup berkat kehadiran Harun. Pak Harfan pun akhirnya membacakan pidato penyambutan bagi kesepulu murid barunya.
Dari sanalah akhirnya di mulai cerita kesepuluh murid baru. Di pagi hari itu, Bu Mus melakukan penempatan tempat duduk. Ibu yang satu ini sangatlah sabar. Umumnya Bu Mus mengelompokkan tempat duduk berdasarkan kemiripan. Ke sepuluh murid ini bernama Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani, dan tentu saja Harun. Pada saat diatur tempat duduknya ada satu anak yang bernama Lintang, dai anak seorang nelayan yang sangat miskin, setiap hari dia bersepeda sejauh 40 km dari rumahnya yang berada di Tanjong Kelumpang, desa yang sangat jauh di tepi laut sampai ke sekolah. Setiap hari ia selalu melewati 4 kawasan pohon nipah yang lumayan seram, tak jarang ada buaya yang sangat besar menyebrang disitu (kadang malah nongkrong). Walaupun begitu ia tetap semangat, ia tak sekalipun pernah membolos dari sekolah yang meskipun terkadang karena saking jauhnya jarak perjalanan tersebut terkadang ia tiba hanya untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dan dia nanti akan menjadi orang yang paling jenius yang pernah ada di dunia ini (mungkin).
Ikal dan Lintang sebangku karena mereka sama-sama berambut ikal. Trapani duduk dengan Mahar karena mereka berdua paling tampan, penampilan mereka seperti para pelantun irama semenanjung idola orang Melayu pedalaman. Namun Borek dan Kucai didudukkan bersama bukan karena mereka miriptapi karena mereka sama-sama susah diatur.
Tak lama kemudian, Pak Harfan pun mengenalkan dirinya sebagai kepala sekolah sekaligus sebagai guru menemani Ibu Mus yang merupakan guru satu-satunya di sekolah ini. Pak Mus memberikan cerita-cerita serta pesan yang sangatlah berharga bagi kehidupan kesepuluh murid yang oleh Bu Mus diberi nama “Laskar Pelangi” karena kecintaan mereka terhadap pelangi. Beliau telah membuat para laskar pelangi ini pun jatuh cinta kepadanya. Apabila Pak Harfan pergi, mereka memandang lekat-lekat sosok tubuh  beliau. Satu jam dengannya terasa hanya satu menit bagi kesepuluh laskar pelangi ini. Ada semacam pengaruh yang lembut dan baik terpancar darinya. Ia mengesankan sebagai pria yang yang kenyang akan pahit dan getir perjuangan dan kesusahan hidup, berpengetahuan seluas samudra, bijak, berani mengambil resiko, dan menikmati daya tarik dalam mencari-cari bagaimana cara menjelaskan sesuatu agar setiap orang mengerti.
Tidak susah menggambarkan sekolah SD Muhamadiyah ini, keadaan yang sudah reot dengan atap yang bolong dan pasti bocorjika hujan tiba, dan bisa roboh kalau ditabrak anak kambing ngamuk.
Mereka tidak mempunyai seragam, apalagi P3K, kalau sakit bakal diberi obat yang sangat pahit yaitu pil APC yang katanya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Yang rutin datang pun hanya pemberantas nyamuk. Sekolah ini sangat  mirip dengan gudang kopra, malam harinya buat kandang ternak.
Esoknya Bu Mus mengadakan acara pemilihan ketua kelas  dan yang ditunjuk oleh Bu Mus adalah Kucai. Awlanya Kucai tak setuju dengan usulan Bu Mus, tetapi yang lainnya sangat setuju jika Kucai yang ditunjuk sebagai ketua kelas. Kucai pun sengaja menunjuk Borek, namun Borek malah melakukan sesuatu kebodohan yang justru membuat Bu Mus kagum dengannya. Hingga pada akhirnya, Kucailah yang yang menjadi ketua kelas karena kesembelan temannya memilih ia yang menjadi ketua kelas. Ia menerima keputusan ini dengan pasrah dan berusaha menjalankan tugasnya sebaik mungkin.
Namun, di tengah-tengah kebahagiaan yang mereka alami, mereka dilanda suatu kejadian yang termat menyedihkan yaitu meninggalnya kepala sekolah yang sangat mereka cintai. Kepergian Pak Harfan merupakan pukulan terberat bagi kesepuluh laskar pelangi, terutama Bu Mus. Hingga sempat membuat Bu Mus enggan mengajar sekolah lagi. Namun ia tersadar ia masih mempunyai kesepuluh laskar pelangi yang harus ia perjuangkan, ia harus membuat mereka bangkit dan menatap indahnya dan kerasnya kehidupan ini kembali.
Hingga seiring berjalannya waktu, semakin terlihat karakter serta keajaiban yang mereka miliki. Banyak kisah yang terukir dari kesepuluh laskar pelangi ini.
Tengoklah Mahar, seorang pesuruh tukang parut kelapa sekaligus seniman dadakan yang imajinatif, tak logis, kreatif, dan sering diremehkan oleh sahabat-sahabatnya, namun ia berhasil mengangkat derajat sekolah kampung mereka. Pernah pada saat giliran Ikal untuk membeli kapur ia bertemu dengan seseorang yang paling cantikyang pernah ia lihat. Orang itu bernama A Ling namun tidak lama setelah itu dia pergi ke Jakarta mengikuti Bibinya.
Atau pernah pada suatu malam hari ada anak yang bernama Flo hilang, walaupun telah dicari ke seluruh pelosok pulau juga tidak ketemu. Akhirnya para polisi menggunakan alternative lain yaitu bertanya kepada tuk bayan tula, seorang petapa yang tinggal di pulau yang sangat terpencil, banyak orang pergi ke sana tiba-tiba hilang begitu saja.
Akhirnya setelah bertanya kepada tuk bayan tula walaupun sudah pagi ia belum juga ditemukan. Karena Kucai sering bilang ada gubuk di seberang sungai paling angker/sungai buta, jadinya mereka harus menyebrangi sungai buta walaupun banyak buaya dan ular, akhirnya Flo ketemu juga. Karena kejadian Flo sejak pagi itu, Kucai menjadi seorang yang tergila-gila dengan ilmu ghaib walaupun nantinya insyaf lagi.
Keajaiban terjadi lagi karena Lintang berhasil memperoleh piagam karena ia telah memenangkan lomba mata pelajaran dan artinya SD SMP Muhamadiyah telah memiliki 2 prestasi, setelah sebelumnya Mahar pada saat karnaval di sekolah SD PN Timah, Maharlah yang dipercayakan sebagai pemimpin kelompok. Karena Maharlah sekolah ini mendapat piala pertamanya setelah bertahun-tahun didirikan. Dan Ketujuh laskar pelangi lainnya yang sangat membanggakan.
Tak ayal, kejadian yang paling menyedihkan melanda sekolah Muhamaddiyah ketika Lintang, siswa paling jenius anggota laskar pelangi itu harus berhenti sekolah padahal cuma tinggal satu triwulan menyelesaikan SMP. Ia harus berhenti karena ia anak laki-laki tertua yang harus menghidupi keluarga sebab ketika itu ayahnya meninggal dunia. Native Belitong kembali dilanda ironi yang besar karena seorang anak jenius harus keluar sekolah karena alasan biaya dan nafkah keluarga justru disekelilingnya PN Timah menjadi semakin kaya raya dengan mengekploitasi tanah leluhurnya.
Meskipun awal tahun 90-an sekolah Muhamaddiyah itu akhirnya ditutup karena sama sekali sudah tidak bisa membiayai diri sendiri tapi semangat, integritas, keluruhan budi, dan ketekunan yang diajarkan Pak Harfan dan Bu Muslimah tetap hidup dalam hati para laskar pelangi. Akhirnya kedua guru itu bisa berbangga karena diantara sebelas orang anggota laskar pelangi sekarang ada yang menjadi wakil rakyat, ada yang menjadi research and development manager di salah satu perusahaan multi nasional paling penting di negeri ini, ada yang mendapatkan bea siswa international kemudian melakukan researsh di University de Paris, Sorbonne dan lulus S2 dengan predikat with distinction dari sebuah universitas terkemuka di Inggris. Semua itu, buah dari pendidikan akhlak dan kecintaan intelektual yang ditanamkan oleh Bu Mus dan Pak Harfan. Kedua orang hebat yang mungkin bahkan belum pernah keluar dari pulau mereka sendiri di ujung paling Selatan Sumatera sana.
Banyak hal-hal inspiratif yang dimunculkan buku ini. Buku ini memberikan contoh dan membesarkan hati. Buku ini memperlihatkan bahwa di tangan seorang guru, kemiskinan dapat diubah menjadi kekuatan, keterbatasan bukanlah kendala untuk maju, dan pendidikan bermutu memiliki definisi dan dimensi
yang sangat luas. Paling tidak laskar pelangi dan sekolah miskin
Muhamaddiyah menunjukkan bahwa pendidikan yang hebat sama sekali tak berhubungan dengan fasilitas. Terakhir cerita laskar pelangi memberitahu kita bahwa bahwa guru benar-benar seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

B.  Unsur intrinsik

1. Alur Tema
Tema khusus : Pendidikan
Alasan : Karena novel tersebut mengangkat kisah realita kehidupan pendidikan di Indonesia
Tema umum : Perjuangan memperjuangkan sekolah
Alasan : Sepuluh anak berjuang mempertahankan sekolahnya demi memuaskan dahaga                                mereka akan ilmu-ilmu
2. Penokohan
1. Tokoh-tokoh dalam novel
~ Ikal;Andrea Hirata.Ikal merupakan julukan yang diberikan oleh warga kampung                       Belitong.
~ Lintang; Lintang Samudra Basara bin Syahbani Maulana Basara
~ Sahara; N.A. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim Ramdhani Fadillah
~ Mahar; Mahar Ahlan bin Jumadi Ahlan bin Zubair bin Awam
~ A Kiong; Muhammad Jundullah Gufron Nur Zaman
~ Syahdan; Syahdan Noor Aziz bin Syahari Noor Aziz
~ Kucai; Mukharam Kucai Khairani
~ Borek alias Samson
~ Trapani; Trapani Ihsan Jamari bin Zainuddin Ilham Jamari
~ Harun; Harun Ardhli Ramadhan bin Syamsul Hazana Ramadhan
~ Bu Mus; N.A. Muslimah Hafsari
~ Pak Harfan; K.A. Harfan Efendy Noor
~ Flo; Floriana
~ A-Ling ; Njoo Xian Ling

2.   Karakter tokoh dalam novel
§ Ikal : tokoh ‘aku’ dalam cerita ini. Ikal yang selalu menjadi peringkat kedua merupakan anak yang pintar. Ia sangat menyukai sastra, terlihat dari kesehariannya yang senag menulis puisi. Ia menyukai A Ling sepupu dari A Kiong.
§ Lintang : Teman Ikal yang luar biasa jenius. Lintang telah menunjukkan minat besar untuk bersekolah semenjak hari pertama berada di sekolah. Ia berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya bekerja sebagai nelayan miskin yang tidak memiliki perahu dan harus menanggung kehidupan 14 jiwa anggota keluarga. Cita-citanya terpaksa ia tinggalkan agar ia dapat bekerja untuk membiayai kebutuhan hidup keluarganya semenjak ayahnya meninggal.
§ Sahara : Satu-satunya gadis dalam anggota laskar pelangi. Merupakan gadis keras kepala yang berpendirian kuat yang sangat patuh pada agama terbukti ia merupakan gadis berjilbab yang cantik dan selalu rajin menunaikan sholat dan mengaji, gadis yang ramah dan pandai, ia baik kepada siapa saja kecuali pada A Kiong yang semenjak mereka masuk sekolah sudah ia basahi dengan air dalam termosnya.
§ Mahar : Tampan, ia memiliki bakat dan minta besar pada seni. Pertama diketahui ketika tanpa sengaja Bu Mus menunjuknya untuk bernyanyi di depan kelas saat pelajaran seni suara.
§ A Kiong : Kendatipun ia memiliki wajah yang buruk rupa, ia memiliki rasa persahabatan yang tinggi dan baik hati, serta suka menolong pada siapapun kecuali Sahara. Namun, meski mereka selalu bertengkar, ternyata mereka berdua saling mencintai.
§ Syahdan : Anak nelayan yang ceria tak pernah menonjol. Merupakan anak yang mempunyai tipe pekerja keras. Dengan bekerja keras pada akhirnya dia menjadi aktor sungguhan Walaupun kalau ada apa-apa dia pasti menjadi seorang yang paling tidak diperhatikan.
§ Kucai : Ketua kelas sepanjang generasi sekolah Laskar Pelangi. Laki-laki ini sejak kecil terlihat bisa menjadi politikus dan akhirnya diwujudkan ketika ia dewasa menjadi ketua fraksi di DPRD Belitong.
§ Borek : Pria besar maniak otot dan selalu menjaga citranya sebagai laki-laki macho. Ketika dewasa ia menjadi kuli di toko milik A Kiong dan Sahara.
§ Trapani : Pria tampan yang pandai dan baik hati ini sangat mencintai ibunya. Dan apapun yang ia lakukan harus selalu didampingi ibunya. Seperti misalnya ia akan tampil sebagai band yang di komando oleh Mahar, ia tidak mau tampil jika tidak ditonton Ibunya.
§ Harun : Pria yang memiliki keterbelakangan mental dan memulai sekolah dasar ketika ia berumur 15 tahun. Laki-laki jenaka ini senantiasa bercerita tentang kucingnya yang berbelang tiga dan melahirkan tiga anak yang masing-masing berbelang tiga pada tanggal tiga pada tanggal tiga kepada Sahara dan senang sekali menanyakan kapan libur lebaran kepada Bu Mus.
§ Bu Muslimah : Bernam lengkap N.A. Muslimah Hapsari Hamid binti K.A. Abdul Hamid. Dia adalah Ibunda Guru bagi Laskar Pelangi dan berhati lembut.
§ Pak Harfan : Bernama lengkap N.A. Harfan Efendi Noor bin K.A. Fadilah Zein Noor. Ia adalah orang yang sangat baik hati dan penyabar meski murid – murid awalnya takut untuk melihatnya. Seperti pada saat beliau bercerita tentang kisah para nabi, semua murid sangat senang dan ketika beliau pulang murid-muridnya selalu menatap lekat-lekat pada dirinya.
§ Flo : Bernama asli Floriana. Seorang anak tomboy yang berasal dari keluarga kaya. Dia tidak sombong walaupun menjadi anak orang kaya. Buktinya ia malah berkeinginan untuk bersekolah di SD SMP Muhamadiyah dan sama sekali tidak merasa malu.
§ A Ling : Cinta pertama Ikal yang merupakan saudara sepupu A Kiong. Dia adalah perempuan yang cantik, hingga ia mampu membuat Ikal jatuh hati padanya.

3. Amanat
Amanat yang dapat dipetik ialah :
§ Bahwa sebagai penyakit sosial, kemiskinan harus diperangi dengan metode yang tepat guna membebaskan mereka dari peliknya kehidupan.
§ Bahwa pendidikan adalah memberikan hati kita kepada anak-anak, bukan sekedar memberikan instruksi atau komando
§ Bahwa setiap anak memiliki potensi unggul yang akan tumbuh menjadi prestasi cemerlang pada masa depan, apabila mereka diberi kesempatan dan keteladanan oleh orang-orang yang mengerti akan makna pendidikan yang sesungguhnya
§ Hidup ini dapat kita lalui dengan bahagia apabila kita semangat dalam menjalankan kewajiban kita, dan sabar dalam menghadapi cobaan
§ Kita dapat meniru semangat yang berkobar dari kesepuluh laskar pelangi di dunia pendidikan, agar kita mampu meraih cita-cita setinggi langit

C. Unsur ekstrinsik

1. Latar Belakang Pengarang
Andrea Hirata lahir di Belitong. Meskipun studi mayornya ekonomi, ia amat menggemari sains (fisika, kimia, biologi, astronomi) dan tentu saja sastra. Edensor adalah novel ketiganya setelah novel – novel best seller Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Andrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademis dan backpaper. Sekarang ia tengah mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di Kye Gompa, desa tertinggi di dunia, di Himalaya. Andrea berpendidikan ekonomi dari Universitas Indonesia. Ia mendapat beasiswa dari Uni Eropa untuk studi master of science di Universitas de Paris, Sorbonne, Prancis, dan Sheffield Hallam University, United Kingdom. Tesis Andra di bidang Ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan ia lulus cum laude. Tesis itu telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi ilmiah. Saat ini Andrea tinggal di Bandung dam masih bekerja di kantor pusat PT Telkom. Hobinya naik komidi putar.

2. Keyakinan dan pandangan hidup pengarang
Penulis adalah seorang yang optimis dan bersemangat dalam menjalani hidupnya, terutama dalam hal pendidikan. Ia selalu mendeskripsikan hidup sebagai suatu tantangan bagi penulis hidup teka-teki yang harus dicari jawabnya.

3. Psikolog pengarang
Pengarang merupakan sosok yamg imajinatif, kreatif, ulet, semngat, dan optimistis. Sifat semngatnya itu yang membuat pengarang mampu menciptakan novel-novel penyemangat terutama Laskar Pelangi ini. Dalam novel ini terlihat sekali bagaiman pengarang bersemangat dalm memperjuangkan pendidikan walaupun kemiskinan teru saja mendera. Pengarang melalui hidupnya dengan gembira dan menyenangkan.

2.3.4. Keadaan sosial masyarakat
Penulis berada di tengah-tengah masyarakat yang dulunya merupakan pusat penghasilan Timah yaitu Belitong. Kondisi miskin tak membuat pengarang menyerah dalam memperjuangkan pendidikannya. Hingga akhirnya lingkungan yang awalnya sangat kurang menyadari pendidikan, menjadi suatu lingkungan yang sangat berwawasan dan berpengetahuan.


Baca Artikel Lainnya:

RESENSI NOVEL “MOGA BUNDA DISAYANG ALLAH“

RESENSI NOVEL “MOGA BUNDA DISAYANG ALLAH“

RESENSI NOVEL “MOGA BUNDA DISAYANG ALLAH“

A. Identitas Buku

1. Judul                        : Moga Bunda Disayang Allah
2. Penulis                     : Tere Liye
3. Penerbit                   : Republika
4. Jumlah Halaman       : 247
5. Jenis Cover              : Soft Cover
6. Dimensi (PxL)          : 20,5 x 13,5 cm
7. Text Bahasa              : Indonesia
8. Tahun                       : 2009 ( cetakan ke-5)

B. Riwayat pengarang

Portal Berita Terpopuler – Tere Liye merupakan nama pena dari seorang novelis yang diambil dari bahasa india yang berarti “Untukmu”. Tere Liye lahir dan besar di pedalaman Sumatera, pada tanggal 21 Mei 1979, dia anak keenam dari tujuh bersaudara. Dia terlahir dari keluarga petani, Tere Liye menyelesaikan masa pendidikan dasar sampai SMP, di SDN2 dan SMN2 Kikim Timur, Sumatera Selatan, kemudian melanjutkan ke SMUN 9 Bandar Lampung, setelah itu ia meneruskan ke Universitas Indonesia dan mengambil jurusan Ekonomi.
Karya-karya Tere Liye sangatlah menyentuh hati, bila kita membaca novelnya, contohnya saja novel Moga Bunda Disayang Allah, kita bisa mengetahui bagaimana rasanya jika kita tidak bisa melihtai dan mendengar. Pasti akan sangat tersiksa.
Berikut karya-karya Tere Liye yang lain :
1. Daun yg Jatuh Tak Pernah Membenci Angin (Gramedia Pustaka Umum, 2010)
2. Pukat (Penerbit Republika, 2010)
3. Burlian (Penerbit Republika, 2009)
4. Hafalan Shalat Delisa (Republika, 2005)
5. Moga Bunda Disayang Allah (Republika, 2007)
6. Bidadari-Bidadari Surga  (Republika, 2008)
7. Sang Penandai (Serambi, 2007)
8. Rembulan Tenggelam Di Wajahmu (Grafindo, 2006; Republika 2009)
9. Mimpi-Mimpi Si Patah Hati (AddPrint, 2005)
10.Cintaku Antara Jakarta & Kuala Lumpur (AddPrint, 2006)
11.Senja Bersama Rosie (Grafindo, 2008)
12.ELIANA ,serial anak-anak mamak
13.Berjuta Rasanya (Republika, 2012)
14.Sepotong hati yang baru (Republika, 2012)

C. Sinopsis

Dalam Novel ini diceritakan seorang anak bernama Melati penderita buta dan tuli untuk bisa mengenali dunia, dan juga perjuangan seorang Pemuda bernama Karang untuk bisa keluar dari perasaan bersalah setelah kematian 18 anak didiknya dalam kecelakaan kapal.
Melati bocah berusia 6 tahun yang buta dan tuli sejak dia berusia 3 tahun. Selama 3 tahun ini dunia melati gelap. Dia tidak memiliki akses untuk bisa mengenal dunia dan seisinya. Mata, telinga semua tertutup baginya. Melati tidak pernah mendapatkan cara untuk mengenal apa yang ingin dikenalnya. Rasa ingin tahu yang dipendam bertahun tahun itu akhirnya memuncak, menjadikan Melati menjadi frustasi dan sulit dikendalikan. Melati hanya bisa mengucap Baa dan Maa. Orang tuanya berusaha berbagai macam cara untuk bisa mengendalikan Melati. Bahkan tim dokter ahli yang diundang oleh orang tuanya tidak berhasil mengendalikan Melati.
Pak Guru karang, seorang pemuda yang suka mabuk dan sering bermurung diri dikamar rumah ibu gendut yang akhirnya menjadi guru Melati. Karang sebenarnya hampir kehilangan semangat hidupnya setelah 18 anak didiknya tewas dalam kecelakaan perahu. Perasaan bersalahnya hampir setiap hari menghantuinya selama 3 tahun terakhir. Dia bahkan hampir tidak berminat ketika ibunya Melati memintanya untuk membimbing Melati. Tapi demi cintanya terhadap anak-anak Karang akhirnya datang memenuhi permintaan ibunya Melati.
Tidak mudah untuk menemukan metode pengajaran bagi Melati. Bagaimana caranya Melati bisa mendengar apa yang dikatakan Karang ? Bagaimana caranya Melati bisa melihat? Bahkan untuk menangis saja Melati tidak bisa menemukan kosakata yang benar. Dunia Melati benar-benar gelap. Melati tidak mempunyai akses untuk tahu. Tidak mempunyai cara untuk mengenal apa yang ingin dia kenal. Setiap kali ada yang menyentuh tubuh Meklati maka dia akan marah, mengamuk dan meklemparkan apa saja yang tercapai oleh tangannya.
Karang hampir putus asa. Lalu keajaiban datang ketika air mancur membasuh lembut telapak tangan Melati. Melati merasakan aliran air di sela jemarinya. Saat itulah untuk pertama kalinya Karang melihat Melati tertawa. Karang akhirnya mengerti, melalui telapak tangan itulah karang menuliskan kata Air, dan meletakkan telapak tangan Melati kemulutnya dan berkata A-I-R. Melati akhirnya mengerti benda yang menyenangkan itu bernama air. Melalui telapak tangan Melati, air mancur yang mengalir di tangan dan sela-sela jarinya berhasil mencukilnya. Melalui telapak tangan itulah semua panca indera disitu. Akhirnya dunia Melati tidak lagi gelap. Dia bisa mengenali orang tuanya, dia bisa mengenali kursi, sendok, pohon dan sebagainya.

D. Kelebihan dan Kekurangan Novel

Kelebihan :
Pengarang menciptakan karakter Melati, Bunda dan Karang dalam sosok masing-masing yang tidak bisa dibedakan mana yang lebih pantas disebut sebagai tokoh utama. Di sini benar-benar terasa adanya tiga tokoh utama yang memiliki kedudukan sama sebagai agen penderita, agen perubahan, dan agen pencerahan. Menyadarkan kita bahwa manusia dalam kedudukannya sendiri-sendiri sebenarnya sedang melakoni peran penting dalam kehidupan nyata. Cerita ini menyuguhkan perjuangan hidup yang tidak mudah yang dialami oleh anak-anak. Baik itu Karang yang yatim piatu maupun Melati dengan segala kekurangannya. Namun ada satu kesamaan antara mereka, anak-anak selalu punya janji masa depan yang lebih baik.Penulis berulang kali mengungkapkan kalimat yang mengingatkan pembaca untuk bersabar dan bersyukur “Hidup ini adil, sungguh Allah Maha Adil, kitalah yang terlalu bebal sehingga tidak tahu dimana letak keadilanNya, namun bukan berarti Allah tidak adil”.

Kekurangan :
Cerita ini ditulis dalam gaya bahasa sehari-hari yang tidak baku. Penggunaan berulang-ulang kosakata yang tidak baku serta kalimat tambahan yang tidak perlu mengganggu kenyamanan dalam membaca. Seperti penggunaan kata “ibu-ibu gemuk” yang artinya menunjuk pada seorang ibu yang bertubuh subur dan kata “anak-anak” untuk penunjukan kata benda seorang anak.Pilihan penulis dalam penempatan setting dan kegiatan pendukung dalam novel terasa kurang tepat. Dalam novel semua tokoh digambarkan sebagai orang-orang muslim dengan segala aktivitas dan atribut mereka, namun pada ending cerita penulis menciptakan suasana pesta kembang api yang dirayakan pada tahun baru Imlek oleh masyarakat termasuk para tokoh novel. Alih-alih menyebutkan secara jelas kota atau negara terjadinya peristiwa dalam novel, sejak awal penulis hanya menyebutkan tempat-tempat semu: “rumah di atas bukit”, “daerah jauh dari ibukota”, “Tuan dan Bunda HK”. Jadi tidak terlihat jelas keberagaman budaya atau mayoritas budaya penduduk yang ada di daerah tempat tinggal tokoh Melati, sehingga kurang ada alasan tepat jika penulis dengan tiba-tiba memasukkan salah satu kegiatan tahunan keluarga Melati adalah merayakan tahun baru China

E. UNSUR EKSTRISTIK

1.Nilai Ketuhanan
*Pentingnya berdo’a kepada Tuhan karena Dialah sang pengabul do’a. Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya.
“Ya Allah tak lelah Ia berharap suatu saat keajaiban itu pasti datang” (hlm.  31)
2.Nilai Moral
Kita sebagai manusia janganlah berbangga hati dan congkak atas segala yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita. Tetaplah bersikap rendah diri dan sederhana karena kita tidak tahu kapan tuhan akan memberikan ujiannya. Selalu bersyukur karena dengan bersyukur kita dapan menjalani hidup ini dengan senyuman.Berbuat baik terhadap semua orang karena hidup adalah cermin dari diri kita sendiri.
“Bunda selalu bisa menghargai orang, meski sepenting dan seberkuasa apapun keluarga mereka.” (hlm. 20)
3.Nilai Sosial
Sayangilah semua orang yang mencintai dan menyayangimu karena merekalah harta karun terbesar yang tuhan berikan. Mereka adalah sumber kekuatan disaat kesepian, terpuruk dan limbung.Merekalah pembawa kebahagian dan keceriaan yang menemanai hari kita bersama senyuman.
“Ia bersumpah akan menjaga keluarga ini seperti leluhurnya.” (hlm. 19)
4.Ekonomi
Kondisi perekonomian masyarakat pedesaan
“ Tanah yang hari ini dipenuhi oleh persawahan. Tunggulah setengah jam lagi, saat matahari beranjak dari garis lautan, ketika pagi mulai meninggi, pematang sawah juga mulai dipenuhi petani yang riang menjemput hari. Kepala dengan topi ilalang.Cangkul di pundak. Sepatu bot setinggi lutut. Dan bekal tiga potong pisang rebus. Bakal nikmat nian, pukul 10.00 nanti istirahat sejenak di pondok rumbia setelah bekerja membersihkan gulma. Di pelelangan ikan dekat pelabuhan, sejak shubuh sudah di padati nelayan. Nelayan yang setelah semalaman akhirnya pulang dari melaut.Menumpahkan berember-ember udang besar, cumi sebesar tinju, kepiting sebesar buku, dan tidak terhitung ukuran ikan-ikannya. Kalau beruntung, bawa hiu sebesar hiu. Pemilik ruko juga mulai membuka partisi depan.” (hlm. 2)
5.Agama
Islam adalah agama terbaik di muka bumi ini. Tidak ada perbedaan diantara semua makhluk Tuhan kecualim keimanan mereka.
“Menghabiskan sisa malam dengan bersimpuh menangis di atas sajadah.Membuat basah ujung mukena.Berharap Tuhan akhirnya memberikan jalan-keluar.” (hlm. 4)
“Ibu, dulu aku pernah  sendiri bertanya dalam sesak.. Apa bedanya sebutir air bening di ujung daun dengan sebutir debu di dinding kusam? Dulu, tiada yang menjawab.hari ini aku menemukan sendiri jawabannya. Apa bedanya? tidak ada. Sama sekali tidak ada.Keduanya sama mensucikan, meski hakikat dan fisiknya jelas berbeda.” (hlm. 87)